Rabu, 01 Juni 2011

KATA MUTIARA MENGENAI KEMATIAN

Oleh : Al-Ustadz Siril Firdaus, M.Ag 

Apabila telah datang ajal...tidak bisa ditunda agak sebentar dan dimajukan agak sebentar, kematian itu pasti datang dimanapun kau akan bersembunyi...pasti akan dapat...siapkan lah dirimu....

1.       Ketika Nabi SAW tahu bahwa ajalnya sudah hampir tiba, beliau pun mengumpulkan sahabat dan memberitakannya. Sahabat menangis dan merasa dirinya tidak bisa hidup bermakna tanpa bimbingan Nabi. Namun Nabi menghibur mereka, “Jangan khawatir, aku tinggalkan untuk kalian dua guru; yang satu bisa bicara dan yang lainnya bisu”. Sahabat saling menoleh siapa di antara mereka yang beliau maksud. Nabi menambahkan, “guru yang bisa bicara, yaitu al-Qur’an, dan guru yang bisu, yaitu kematian.
2.       Walaupun kematian hanya menasehati kita tanpa kata-kata, namun bila kita renungi, maka kejadian kematian yang kita ketahui akan menjadi sarana yang luar biasa untuk menyadarkan kita bagaimana seharus kita hidup selama di dunia ini. Jangan seperti ada sebagian saudara kita yang ternyata belum lebih pintar lagi dari sapi qurban. Sudah kelihatan kawannya bergelimpangan, bersimbah darah, daging dipotong, tulang dicincang, dan sebagainya, tapi dia berdiri di sebelahnya, enak-enak juga makan rumput, padahal dia pun sebentar lagi gilirannya. Sudah banyak disaksikannya orang meninggalkan, di antaranya ada teman, famili, bahkan orang tuanya, namun seperti tidak juga mau sadar, hidup masih bergelimang dosa juga, ibadah malas, dosa senang.
3.       Ingatlah maut dan kejadian setelahnya. Karena tak seorang pun yang bisa terbebas darinya. Kejadian itu akan mengungkap rahasia. Semuanya nyata bukan impian. Kuburan bisa jadi lapangan syorga, bila selama hidup kita kerjakan kebaikan. Tapi kuburan juga bisa jadi jurang neraka, bila hidup dipenuhi dengan perbuatan keji. Sungguh bila kita tahu persis kejadian yang dialami oleh orang-orang yang telah mendahului kita, maka kita akan sering menangis, dan jarang ketawa.
4.       Mengingat mati, tidak berarti lalu pasif, malah justru harus lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Ibarat orang lomba lari, maka ia akan berpacu karena adanya batas waktu dan garis finis. Oleh karena umur terbatas, hidup lalu menjadi sangat berharga, bukankan Allah juga menciptakan ada kehidupan di akhirat setelah kematian untuk mendorong manusia supaya berkarya dengan sebaik-baiknya. (Al-Mulk (67) : 2)
5.       Kematian yang kita saksikan akan mendesak kita dengan banyak hal, di antaranya:
a.       Hidup dengan terus mengingat mati atau hidup semau hati,
Bila kita memilih hidup dengan terus mengingat mati, maka liang lahat akan menjadi sebuah taman syorga, namun bila memilih hidup semau hati, maka tunggulah kematian yang mengerikan.
b.       Hidup dengan mengharapkan mati dalam husnul khatimah atau mati dalam su’ul khatimah,
Bila kita memilih hidup dengan mengharapkan mati dalam husnul khatimah, maka tirulah kehidupan Nabi, sahabat, dan para salihin atau memilih mati dalam su’ul khatimah, maka ketahuilah itu awal dari kesengsaraan yang abadi.
c.       Hidup dengan mendambakan syorga atau memilih neraka,
Bila kita memilih hidup dengan mendambakan syorga, maka sungguh-sungguhlah taat kepada Allah SWT, atau memilih neraka, maka silahkan melupakan Allah.
6.       Siapa yang sering mengingat mati, akan dimuliakan karena 3 hal; segera bertobat, hatinya qana’ah, dan giat beribadah. Siapa yang melupakan kematian, akan dihinakan oleh 3 hal pula; menunda-nunda tobat, meninggalkan pertimbangan ridha Allah demi mengejar dunia, dan malas beribadah. (Al-Daqqaq)
7.       Ada 3 tipe manusia dalam kaitannya dengan tangis;
a.       Orang yang menangis dengan memekik dan mengumpat sambil berdo’a untuk kecelakaan orang lain. Orang seperti ini pertanda celaka.
b.       Orang yang tidak mau menangis, air matanya beku, dan hatinya membatu. Orang seperti ini juga pertanda celaka.
c.       Orang yang menangis dalam batas kewajaran, hatinya sedih hingga mencucurkan air mata, namun hanya mengucapkan kata-kata yang diridhai Allah. Orang seperti ini pertanda mulia.
8.       Menangis sambil meratapi nasib, seolah-olah benci dan tidak rela dengan ketentuan Allah adalah perbuatan tercela, tidak ada gunanya, dan tidak ada pahalanya.
9.       Seseorang yang meratap keras, apabila tidak sempat bertaubat, maka kelak di neraka kepalanya akan dituangi cairan panas semacam aspal dan kulitnya akan diselimuti dengan kain kudis. Orang meninggal juga disiksa karena ratapan keluarganya.
10.   Beda sahabat Nabi dengan kita ketika mendengar berita seputar hari akhir adalah sahabat segera berpacu mempersiapkan diri mengambil jalan hidup bersama Rasulullah sedangkan sebahagian kita malah semakin berpacu mengejar dunia seperti takut nanti tidak kebagian, sehingga tidak peduli dengan bekal menghadapi hari akhir itu.
11.   Ada 2 macam bentuk kematian manusia:
1)       Kematian yang membuat dirinya beristirahat di tempat yang penuh kedamaian. Itulah kematian orang taat, shaleh, atau ahli syorga.
2)       Kematian yang membuat orang lain beristirahat dari gangguannya. Itulah kematian orang yang celaka, pendurhaka, penjahat, atau ahli neraka.
12.   Maut adalah kepastian yang tidak bisa dihindarkan. Tidak ada pilihan lain saat ia datang, selain menaiki peti mati. Beragam impian kita khayalkan agar jadi kenyataan, semuanya seakan diharapkan dekat di hadapan kita. Kita bangun rumah yang bagus untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Padahal kita sadar akan segera mati dan binasa. Kepada Allah juga kita adukan qalbu yang mengeluh. Oleh karena itu, jadikanlah tiap hari mengingat kematian menjadi obat terampuhnya!
13.   Kematian bukanlah kepergian murni, bukan pula kefanaan haqiqi. Kematian hanyalah sekedar terputusnya hubungan roh dengan badan, perpisahan antara keduanya, dan perubahan kondisi, serta perpindahan tempat saja. (Al-Fauzul ‘Azhim)
14.   Setelah mati, tiada tempat yang bisa dihuni manusia, kecuali yang ia bangun sendiri ketika hidup di dunia. Bila ia membangun dengan amal shaleh, maka di istana kebahagiaan ia tinggal, bila ia membangun dengan kejahatan, maka di lumpur kebinasaan ia menetap.
15.   Agar selalu teringat kematian:
1)       Buat jembatan ingatan akan kematian dalam pemikiran kita, misalnya;
·         Cantumkan tulisan dalam rumah, “Ingatlah maut!”
·         Letakan kain kafan di tempat yang mudah dilihat, atau
·         Seperti ada sahabat (Maymun bin Mahran) yang menggali kuburan dalam rumahnya.
2)       Seringlah ziarah kubur, setidaknya setiap kali ada masyarakat sekitar atau teman meninggal.
3)       Banyak bergaul dengan orang-orang shaleh.
16.   Kematian adalah ketakutan yang mengerikan kalau mati dalam keadaan kurang amal. Rasa sakit ketika mati lebih pedih ketimbang diiris dengan gergaji atau direbus dalam air panas mendidih. Seandainya ada seorang saja mayat bisa hidup kembali menceritakan sakitnya mati, niscaya manusia tidak bisa hidup dengan tenteram, tidak bisa tidur dengan nyaman. (Ibnu Abi Dunya)
17.   Sungguh andaikata ada orang yang hidup 1.000 tahun sekalipun. Mesti telah menikmati segala kesenangan di istana. Tiada kesedihan dan kegelisahan yang hinggap di hatinya. Semua itu tidak akan menghalanginya untuk bertemu dengan suka dukanya mati dan kuburan.
Hati yang sekeras apapun bisa diobati dengan 4 hal; (1) rajin menghadiri majelis ilmu, (2) sering mengingat mati, (3) rajin menyaksikan orang yang sedang sakarat, dan (4) sering ziarah ke kuburan.

Ditulis Oleh : Andi // 01.30
Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger Community

Diberdayakan oleh Blogger.