Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2018

Mengapa Umar bin Khattab Digelari Al Faruq

Di antara tradisi orang-orang Arab, selain nama asli, mereka memiliki nama kuniyah (panggilan) dan laqab (julukan/gelar). Para sahabat, banyak yang mendapatkan laqab dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk Umar bin Khattab yang mendapat gelar Al Faruq.
Mengapa Umar bin Khattab mendapat gelar al faruq?
Prof Dr Ali Muhammad Ash Shalabi dalam Biografi Umar bin Khattab menjelaskan bahwa Umar mendapat gelar al faruq yang artinya pembeda karena ia menunjukkan keislaman di Makkah. Dengan Islam itu, Umar mampu membedakan antara kafir dan iman.
Dr Mushtafa Murad dalam Kisah Hidup Umar bin Khattab menjelaskan bahwa Rasulullah memberikan gelar al faruq karena Umar bin Khattab mampu membedakan yang benar dan yang batil.
Al faruq juga berarti memisahkan.
“Allah telah menempatkan kebenaran di lisan dan hati Umar,” sabda Rasulullah dalam riwayat Ahmad, “Dialah al faruq yang memisahkan yang haq dan yang batil.”
Ketegasan Umar bin Khattab dalam banyak hal menunjukkan bahwa gelar pemberian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini sangat tepat. Di saat orang lain ragu, Umar bin Khattab berani maju dan sering kali bahasa yang keluar dari lisannya ketika ada yang melecehkan Islam adalah “wahai Rasulullah, ijinkan aku tebas lehernya dengan pedang.”
Ada pula makna lain dari al faruq sebagai penjaga Rasulullah dan pencerai berai barisan kaum kafir. Dalam banyak peperangan, Umar adalah tak terkalahkan. Ia melindungi Rasulullah dan melindungi Islam, hingga kelak dipilih menggantikan Abu Bakar sebagai kepala negara.
Ada banyak ragam makna al faruq; pembeda, yang memisahkan, penjaga. Yang kesemuanya memiliki benang merah bahwa ketika Umar bin Khattab telah masuk Islam, ia menjadi pembeda dan pemisah antara yang haq dan yang batil sekaligus menjaga yang haq dan melindunginya dari yang batil.
Hari-hari pertama masuk Islam, Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah, bukankah kita hidup dalam kebenaran dan mati dalam kebenaran?”
Rasulullah menjawab tegas, “Ya. Demi Allah, hidup dan mati kita dalam kebenaran.”
“Jika demikian, mengapa kita sembunyi-sembunyi dalam mendakwahkan ajaran kita. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, telah tiba saatnya untuk keluar.”
Rasulullah mengamini usulan Umar. Maka itulah kali pertama umat Islam menampakkan diri secara terang-terangan. Para sahabat dibagi menjadi dua barian; satu barisan dipimpin Hamzah dan satu barisan dipimpin Umar. Kemudian mereka menuju ka’bah dan tak satu pun orang Quraisy berani mengganggu mereka. Sejak saat itulah Umar dipanggil dengan julukan al faruq.
Sumber : Bersama Dakwah

Kamis, 02 Juni 2011

Filsafat Nagari

     
    Pengertian 
Nagari adalah suatu pergaulan hidup tertentu yang mempunyai daerah, rakyat dan pemerintah tertentu. Nagari tidaklah terjadi begitu saja. Nagari terjadi melalui suatu urutan yang dimulai dari Taratak. Ada sebuah bidal yang mengatakan:
               Taratak mulo babuek
               Sudah taratak manjadi dusun
               Sudah dusun manjadi koto
               Baru bakampuang-banagari
                Nagari-nagari di Minangkabau menurut pemerintahannya merupakan suatu serikat (federasi). Prinsip nagari adalah bebas mengurus dirinya masing-masing ke dalam dengan semboyan Adat Salingka Nagari. Maksudnya, tiap-tiap nagari berdiri dengan adatnya. Sesungguhnya cara pemakaiannya tidak sama dalam tiap-tiap nagari, namun sebaliknya selalu siap sedia, bersama-sama menghadapi soal ke luar. Bilamana dalam nagari-nagari yang berserikat itu timbul masalah, baik masalah sosial maupun masalah ekonomi atau politik, penyelesaiannya tidaklah bernafas ke luar badan, melainkan diselesaikan oleh nagari itu sendiri, sesuai dengan petuah adat yang berbunyi Kusuik bulu paruah manyalasaikan, kusuik paruah bulu manyalasaikan.
               Susunan nagari di Minangkabau bertingkat-tingkat.
               Tingkat pertama adalah Suku. Tiap nagari mempunyai beberapa suku, sekurang-kurangnya ada 4 suku barulah sah dikatakan nagari. Sesuai bidal yang mengatakan Nagari baampek suku dan suku dipimpin oleh Penghulu.
               Tingkat kedua Paruik. Adat mengatakan Suku babuah paruik. artinya, tiap-tiap suku harus ada beberapa buah paruiknya. Jika tidak ada maka suku belum memenuhi syarat. Akibatnya nagari belum pula boleh dibentuk. Yang dimaksud dengan Saparuik adalah satu kesatuan dari orang-orang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mulanya berasal dari seorang ibu dalam satu angkatan (generasi). Jadi orang-orang yang saparuik adalah mereka yang bertalian darah dihitung menurut garis moyang asal. Orang saparuik dapat dibagi atas Jurai, yaitu satu kelompok anggota paruik yang ada dibawah Kapalo Jurai yang mempunyai hak daulat ke dalam.

               Tingkat ketiga Kampuang. Para keluarga dari suku tadi makin lama makin berkembang. Mereka yang tinggal sekelompok (berdekatan) mengusahakan ladang dan sawah mereka masing-masing. Kampung ini dipimpin oleh Tuo Kampuang atau Pangka Tuo Kampuang, yang dipilih diantara salah seorang lelaki yang tua atau yang dituakan dalam\ kampung itu. Hidup berkampung diikat dengan syarat sebagaimana tersebut dalam petitih berikut:
               Singok bagisia,
               Halaman salalu,
               Sawah sapamatang,
               Ladang sabintalak,
               Basasok bajarami,
               Batunggua panabangan
               Bapandam pakuburan
               Tingkat keempat adalah Rumah Gadang. Tiap kampung terdiri dari beberapa buah Rumah Gadang. Rumah Gadang ditempati oleh suatu keluarga besar dari sabuah paruik. Rumah Gadang dipimpin oleh Tungganai, saudara laki-laki tertua dalam keluarga besar itu.  Menurut Undang-Undang Nagari di Minangkabau, sebuah nagari sah bila memenuhi syarat-syarat yang disimpulkan dalam tujuh hal:
               Dusun – taratak. maksudnya adalah lambang pemerintahan. Labuah – tapian. Labuah berarti urusan hubungan lalu lintas sebagai urat nadi perekonomian menurut adat. Tapian adalah lambang kesehatan. Sawah – ladang Lambang pertanian. Banda – buatan Lambang pengairan. Kabau, jawi - tabek, taman-taman Lambang peternakan. Balai – musajik Balai adalah lambang hukum dan mufakat. Sedangkan musajik adalah lambang agama.  Gelanggang – pamedanan. Gelanggang adalah lambang olahraga. Sedangkan pamedanan adalah tempat berhimpun.
               Asal Muasal Nagari
               Dahulu, nagari adalah empat buah saja namanya, pertama Taratak, kedua Dusun, ketiga Koto dan keempat Nagari. Taratak berasal dari kata Tetak, dusun berasal dari kata susun, Koto berasal dari kata sakato dan nagari berasal dari kata pagar atau dipagari, yaitu dipagari dengan adat dan undang-undang.
               Bermula segala nagari ini dahulunya adalah rimba besar dan barang siapa yang hendak membuat ladang atau mencari tempat kediamannya, maka dicarilah tempat yang baik, dan kalau sudah dapat barulah mulai menebang batang-batang kayu yang tumbuh ditempat itu, setelah itu barulah dimulai mencangkul atau menjenjang tanah itu. Pekerjaan itu yang mula-mula dinamakan tetak. Sampai sekarang masih digunakan, misalnya menetak kesumayan atau tempat menaburkan benih, menetak ladang, atau menetak hari (menentukan hari baik untuk perkawinan). Lama-kelamaan, sebutan itu menjadi biasa, dan tempat tersebut dinamakan orang Teratak sebagai tempat kediamannya.
               Tiada berapa lama, datanglah beberapa orang membuat ladang atau tempat kediaman di sebelah orang yang pertama, dan tempat itu dinamakan Dusun, karena ladang atau tempat orang-orang itu sudah bersusun.
               Selanjutnya, datang pulalah beberapa orang hendak tinggal disebelah-menyebelah dusun itu untuk membuat rumah atau ladang. karena manusia berkembang juga, maka tempat itu dinamakan Kampung, yang asal katanya berkampung/berkumpul.
               Dan kalau sudah terjadi beberapa kampung yang berdekatan antara satu dengan yang lain dan penduduknya juga seiya sekata, dimana "Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang", maka kumpulan kampung itu dinamakan Koto. Kemudian barulah Nagari, setelah adanya dua atau tiga buah Koto yang berdekatan.
               Koto dan Kampung itu sepakat bahwa mereka akan seiya sekata, buruk sama dibuang, baik sama dipakai dan salah sama ditimbang. maka Koto yang berdekatan itupun dipagar dengan undang-undang dan peraturan adat supaya jangan tumbuh yang tidak baik, dan segala isi nagari aman, sebagaimana pepatah orang Minangkabau:
               Nagari bapaga undang
               kampuang bapaga pusako.


مبحث الألفاظ


مبحث الألفاظ
ينقسم اللفظ إلى مفرد ومركب :
أ‌.           المفرد
فالمفرد : هو ماليس له جزءيدل دلالة مقصودة على جزء المنى المراد منه وذلك صادق على أربع صور.
1)            ما ليس له جزء أصلا بأن يكون على حرف واحد كباء الجر وواو القسم.
2)            ماتركب من أكثر من جزء ولكن لايدل جزؤه على معنى مطلقا كالقاف فى استقلال والياء فى سيادة.
3)            ما له جزء يدل على جزء المعنى كالمضاف والمضاف اليه من عبد الله علما، فكل منهما يدل على معنى فى نفسه, ولكن معنى الجزء هذا ليس جزءا من المعنى المراد من لفظ عبد الله علما.
4)            ما له جزء يدل على جزء معناه دلالة غير مقصودة, نحو حيوان ناطق علما على إنسان. فكل من حيوان وناطق يدل على جزء من معنى العلم الذى هو إنسان, ولكن هذه الدلا لة غير مقصودة, بل المقصود هو أن يدل مجوع اللفظين على  الذات المشخصة.
أقسام المفرد
ينقسم المفرد إلى ثلاثة أقسام :
أ‌.                اسم وهو : ما دل على معنى مستقل بالفهم من غير دلالة على زمان ذلك المعنى كمدرس, مسجد، نهر، مصباح, وغير ذلك
ب‌.          كلمة, وهو : مادل على معنى فى زمن  من الأزمنه الثلاثة كذهب, يرمى، اقطع, وماأشبه ذلك وتسمى فعلا عند النحوبين
ج‌.           أداة وهو : مالايدل وحده على معنى مستقل بالفهم نحو من, على, فى, عن وغير ذلك مما يسمى حرفا عنه النحاة
ب‌.     المركب
والمركب هو : مايدل جزؤه دلالة مقمودة على جزء المعنى المقصود مثل : ينجح التلميذ المجتهد, طالب استقلال, رامى الحجارة, ارتفع سعر المطاط, كن محبا لوطنك, الأدب أساس النجاح.
أقسام المركب
ينقسم المركب إلى قسمين :
1)            تام وهو : ماأفاد فائدة يحسن السكوت عليها نحو : ازدهر الإسلام فى العصر العباسئ أبو جعفر المنصور مؤسس الدولة العباسية
2)            ناقص وهو : مالا يفيد فائدة يحسن السكوت عليها نحو الكتاب، الثخين، رامى الحجارة
والمركب التام ينقسم إلى قسمين :
1)            المركب الخبرى أوالقضية وهو : كل مركب احتمل الصدق والكذب الذاته نحو الروائح العطرية، تغش الجسم, النظافة أساس القواعد الصحية, وهذا القسم هو مو ضوع بحث المنا طقة
2)            الركب الإنشائى وهو : كل مركب لا يحتمل الصدق والكذب من أمر أونهى أو استفهام أونداء نحو : تغرب عن الوطن فى طلب المعالى, لاتيأس من رحمة الله، هل أديت الواجب نحو دينك ؟ يا محمد أحسن إلى الناس، وهذا القسم لا يبحث عنه المناطقة.

Rabu, 01 Juni 2011

علم المكاشفة

تعريف
علم المكاشفة وهو علم الباطن وذلك غاية العلوم. قال بعض العارفين: من لم يكن له نصيب من هذا العلم أخاف عليه سوء الخاتمة، وأدنى نصيب منه التصديق به وتسليمه لأهله.
وقال آخر: من كان فيه خصلتان لم يفتح له بشيء من هذا العلم: بدعة، أو كبر. وقيل: من كان محباً للدنيا أو مصراً على هوى لم يتحقق به وقد يتحقق بسائر العلوم، وأقل عقوبة من ينكره أنه لا يذوق منه شيئاً وينشد على قوله.[1]
وهو علم الصديقين والمقربين، أعني علم المكاشفة فهو عبارة عن نور يظهر في القلب عند تطهيره وتزكيته من صفاته المذمومة، وينكشف من ذلك النور أمور كثيرة كان يسمع من قبل أسماءها فيتوهم لها معاني مجملة غير متضحة، فتتضح إذ ذاك حتى تحصل المعرفة الحقيقية بذات الله سبحانه، وبصفاته الباقيات التامات، وبأفعاله، وبحكمة في خلق الدنيا والآخرة، ووجه ترتيبه للآخرة على الدنيا.[2]
        الكشف عندهم هو مبدأ الشهود وهو نور تجلى معاني الأسماء الحسنى على القلب فتضيء به ظلمة القلب ويرتفع به حجاب الكشف, ولا تلتفت إلى غير هذا فتزل قدم بعد ثبوتها فإنك تجد في كلام بعضهم تجلي الذات يقتضي كذا وكذا وتجلي الصفات يقتضي كذا وكذا وتجلي الأفعال يقتضي كذا وكذا.[3]
        قال صاحب الكاتب مدخل إلى التصوف الإسلامي على ان العارف لايرى الا الله تعالى و لا يرى غيره.و يعلم أنه ليس في الوجود إلا هو وأفعاله ومن هذه حاله فلا ينظر في شيء من الأفعال إلا ويرى فيه الفاعل ويذهل عن الفعل من حيث إنه سماء وأرض وحيوان وشجر، بل ينظر الى ذلك كله من حيث أنه صنع الواحد الحق فكل العالم اذن تصنيف الله تعالى، فمن نظر إليه من حيث إنه فعل الله وعرفه من حيث إنه فعل الله وأحبه من حيث إنه فعل الله لم يكن ناظراً إلا في الله ولا عارفاً إلا بالله ولا محباً إلا الله.[4]
        ومن هذا حاله" هو الموحد الحق الذي لا يرى إلا الله، بل لا ينظر إلى نفسه من حيث نفسه بل من حيث إنه عبد الله، فهذا الذي يقال فيه إنه فني في التوحيد وإنه فني عن نفسه. وإليه الإشارة بقول من قال: كنا بنا ففنينا عنا فبقينا بلا نحن"[5]
        بهذا الوضوح يصف الغزالى تجربة الفناء فى التوحيد هو ثمرة المعرفة, يعيب على غيره ممن لم يحسن التعبير عنها قائلا " فهذه أمور ( أي الامور المتعلقة بالفناء ) معلومة عند ذوي البصائر، أشكلت لضعف الأفهام عن دركها وقصور قدرة العلماء بها عن إيضاحها وبيانها بعبارة مفهمة موصلة للغرض إلى الأفهام، أو باشتغالهم بأنفسهم واعتقادهم أن بيان ذلك لغيرهم مما لا يعنيهم، فهذا هو السبب في قصور الأفهام عن معرفة الله تعالى.[6]
        على أن الغزالى من ناحية أخرى يرى أن التعبير عن حقائق التوحيد التي تنكشف فى حال الفناء بألفاظ اللغة يوقع صاحبه في اشكالات لا حصر لها. فيؤثر لذالك الامساك عن الخوظل فيها نجده يقسم علوم التصوف الى قسمين الاول التصوف كعلم المعاملة. وهذا هو ما دونه في اىحياء, والثانى التصوف كعلم المكاشفة, وهذا لا رخصة في ايداعه الكتب.[7]
        و يرى الغزالى ان الواصل الى المكاشفة قد خاض لجة الحقائق وعبر ساحل الأحوال والأعمال واتحد بصفاء التوحيد وتحقق بمحض الإخلاص، فلم يبق فيه منه شيء أصلاً، بل خمدت بشريته وفنى التفاته إلى صفات البشرية بالكلبة، ولست أعني بفنائه فناء جسده بل فناه قلبه، ولست أعني بالقلب اللحم والدم بل سر لطيف, وهذا الفناء مقام من مقامات علوم المكاشفة. منه نشأ خيل من ادى الحلول و الاتحاد, و قال " أنا الحق" ( بشير هنا الى الحلاج)[8]
        ينقسم التوحيد الى أربعة مراتب, الاول أن يقول لا اله الا الله بلسانه و قلبه غافل عن معنى قوله وهذا توحيد المنافقين, والثانية أي يصدق بمعنى اللفظ كما صدق به عموم المسلمين وهذا أمر اعتقاد العوام, والثالثة أن يشاهد ذلك بطريق الكشف بواسط نور الحق وهو مقام المقربين, الرابعة أن لايرى في الوجود الا واحد وهو مشاهدة الصدقين و تسميه الصوفية الفناء في التوحيد.[9]
        يري الغزالى هذه المرتبة الرابعة أعلى المراتب لان الموحد هنا, لم يحضر في شهوده غير الواحد, فلا يرى الكل من حيث أنه كثير بل من حيث أنه واحد.
        يفترض الغزالى أن معترضا عليه قد يقول: كيف يتصور أن لا يشاهد إلا واحد وهو يشاهد السماء والأرض وسائر الأجسام المحسوسة وهي كثيرة، فكيف يكون الكثير واحدا؟
        ويجيب على هذا الاعتراض قائلا في عبارات واضحة للغاية: فاعلم أن هذه غاية علوم المكاشفات. وأسرار هذا العلم لا يجوز أن تسطر في كتاب، فقد قال العارفون: إفشاء سر الربوبية كفر، ثم هو غير متعلق بعلم المعاملة، نعم ذكر ما يكسر سورة استبعادك ممكن، وهو أن الشيء قد يكون كثيرا بنوع مشاهدة واعتبار، ويكون واحدا بنوع آخر من المشاهدة والاعتبار.
        وهذا كما أن الإنسان كثير إن التفت إلى روحه وجسده وأطرافه وعروقه وعظامه وأحشائه، وهو باعتبار آخر ومشاهدة أخرى واحد إذ تقول انا إنسان واحد، فهو بالإضافة إلى الإنسانية واحد، وكم من شخص يشاهد إنسانا ولا يخطر بباله كثرة أمعائه وعروقه وأطرافه وتفصيل روحه وجسده وأعضائه، والفرق بينهما أنه في حالة الاستغراق.. مستغرق بواحد ليس فيه تفريق وكأنه في عين الجمع، والملتفت إلى الكثرة في تفرقه.[10]
        فكذلك كل ما في الوجود من الخالق والمخلوق له اعتبارات ومشاهدات كثيرة مختلفة، فهو باعتبار واحد من الاعتبارات واحد، وباعتبارات أخر سواء كثير.. ومثاله الإنسان وإن كان لا يطابق الغرض ولكنه ينبه في الجملة على كيفية مصير الكثرة في حكم المشاهدة واحدا.[11]
        تعبير عن علم المكاشفة رمزا
        يتفق الغزالى مع غيره من الصوفية في أن التعبير عن حقائق التوحيد صعب للغاية. ولاتصلح له اللغة العادية ومن هذا أسلوب الغزالى بوجه تام واضح لأن ذلك في نطاق علم المعاملة, أما علم المكاشفة فليس الى تدوينه من سبيل. و اذا اضطر الصوفي الى التعبير عنه لم يعبر إلا رمزا. في ذلك يقول الغزالى: المقصود من هذا الكتاب علم المعاملة فقط دون علم المكاشفة التى لا رخصة في ايدائها الكتب.
        و ان كانت هي غاية مقصد الطالبين و مطمح نظر الصديقين, و علم المعاملة طريق اليه, ولكن لم يتكلم الانبياء صلوات الله عليهم مع الخلق إلا في علم الطريق و الارشاد اليه, و أما علم المكاشفة فلم يتكلموا فيه الا بالرمز و الإيماء على سبيل التمثيل و الاجمال علما منهم بقصور افهام الخلق عن الاحتمال.[12]


مراجع
-      مدخل إلى التصوف الإسلامي للأبي الوفاء الغنيمي التفتازاني, دار الثقافة باالقاهرة: 1978 م
-      إحياء علوم الدين للامام أبي حامد بن محمد الغزالي, الطبعة الثالثة. دار الفكر: 1411هـ - 1991 مـ
-      مدارج السالكين لإبن قيم الجوزية, دار الفكر:1412هـ - 1991م



[1]  إحياء علوم الدين,  جـ 1, ص 31
[2]  إحياء علوم الدين,  جـ 1, ص 31
[3]  مدارج السالكين, جـ 3, ص 110
[4]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 176
[5]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 176
[6]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 177
[7]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 177
[8]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 177
[9]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 178
[10]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 178
[11]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 179
[12]  مدخل إلى التصوف الإسلامي, ص 180

Abu Bakar Al- Baqilani (أبو بكر الباقلاني)

أبو بكر الباقلاني
Abu bakar Al- bakilani adalah salah satu guru dari mutakallim atau tokoh dari ahli Ilmu Kalam, dibawah ini akan membahas tentang Abu Bakar Al- Bakilani, biografiy, karangannya dan pemikirannya.
1.    ترجمة
هو أبو بكر محمد بن الطيب محمد, القاضي المعروف بالباقلاني أو ابن الباقلانى ولد بالبصرة وسكن بغداد, سمع الحديث من أبي بكر بن مالك القطيعي, وابي محمد بن ماسى, وأبي أحمد الحسين النيسابوري, وقد أخذ الفقه على أبي بكر الأببهرى, أما علم الكلام فقد درسه على يدي أبي عبدالله بكر بن مجاهد ( البصرى الطائي ) وأبي الحسن الباهلي تلميذي أبي حسن الأشعري.
درس الباقلانى ببغداد وكانت له حلقة كبيرة من التلاميذ وقد اشتهر باالقدرة على الجدل وإقحام الخصوم من الشيعة والمعتزلة. وقد عرف بالتطويل فى المناظرة إلى حد يتعذر على الخصم أن يجاريه, وكان واسع العلم كثر الحفظ على حد أن كان يرد على مصنفات الخصوم دون حاجة إلى الرجوع إلى مؤلفاتهم.
يستهل الباقلانى كتابه " التمهيد " وكذلك كتابه " الإنصاف" بالحديث في معرفة أو بالأحرى المبادئ التي يجب معرفتها مما لايتم النظر في معرفة الله وصفاته إلا بها وهو مدخل منهجي ربما كان أول من ابتكره من المتكلمين فيشير إلى حقيقة العلم ومعناه, والفرق بين علم الله القديم و علم الإنسان المحدث, أما العلم الإنسان المحدث فمنه البديهي الضروري ومنه النظري الاستدلالي. ويتناول أنواع الاستدلال لا على سبيل البحث المنطقي وإنما الكلامي ليؤكد القضايا التي يتبناها وأما علم الله فليس ضرورة ولا استدلالا.

2.    مصنفات
كان الباقلاني غزير الإنتجاخ فقد ذكر له قاضي عياض تسعا وتسعين كتابا في مسائل الكالام و أصول الفقه وإعجاز القران, وقد بقي من كتبه.
أ‌.       إعجاز القران
ب‌.  التمهيد في الرد على الملحدة المعطلة والرافضة والخوارج والمعتزلة
ت‌.  الإنصاف في أسباب الخلاف
وهناك مؤلفات لا زالت مخفوظات مثل:
  • ü    هداية المسترشدين, والمقنع في أصول الدين.
  • ü    مناقب الأئمة و نقض المطاعن عن سلف الامة.
  • ü    البيان عن الفرق بين معجزات النبيين وكرامات الصالحين.
3.    أراءه الكلامية
أ‌.       في العلم والمعلوم
1)    في العلم
العلم هو معرفة المعلوم على ما هو به, ولم يقل معرفة الشيئ لأن العلم يشمل الشيئ وما ليس بشيئ فالعلم يشما الموجود والمعلوم معا.
العلم نوعان: علم قديم وهوعلم الله تعالى, و علم محدث وهو علم المخلوقين.
علم المخلوقين بنقسم قسمين
  • ü    علم ضرورة: يدرج الباقلاني الععرفة الحسية والوجدنية فضلا عن العلم مع القوانين الضرورية كاستحالة الجمع بين النقيضين تحت العلم الضروري.
  • ü    علم نظر واستدلال: يركز الباقلاني على قياس التمثيل أو قياس الغائب على الشاهد منهج الأصولين.
2)    في المعلوم
يتعلق العلم كما سبقت الإشارة بالموجود و المعدوم, والموجود هي الشيء الثابت الكائن أما المعدوم فهو ما ليس بشيء.
ينقسم المعدوم على خمسة أنواع:
  • ü    المستحيل الممتنع وقوعه كاجتماع النقضين.
  • ü    غير الموجود حاليا ولكن سيوجد فيما بعد كقيام الساعة والجزاء من الثواب وعقاب مما أخبر الله عنه سيفعله.
  • ü    المعدوم في الماضي و في المستقبل إذ أخبر الله أنه لا يكون وإن كان في مقدوره أن يكون كرد أهل المعاد إلى الدنيا.
  • ü    الممكن وهو ما يمكن أن يكون ويمكن أن لا يكون, فذلك في علم الله المغيب على الإنسان.
أما الموجودات فعلى ضربين: قديم لم يزل ومحدث لوجوده أول.
والمحدثات ثلاثة أقسام: جسم و جوهر وعرض, فالجسم هو المؤلف والجوحر هو الذي يقبل الأعرض والعرض هو ما يصح بقاؤه.



ب‌.  الله
1)    الموجودات محدثة
يدف الباقلان مما سبق اثبات حدوث الموجودات من أجسام و جواهر و أعراض و أنها تحتاج إلى محدث لها هو الله. و دليل حدوث الموجودات فى العلمين العلوى و السفلى أن الأعراض حادثة طاوئة إذ حين تتحرك ينقطع السكون و حين تسكن تتفوقف الحركة، والأجسام لا تنفك عن الأعراض أو الحوادث، إذ لا أجسام ولا جواهر بدون أعراض،  وما لا ينفك عن الحوادث فهو حادث، فالعالم بأسره محدث.
2)    لكل محدث محدث ( إثبات وجود الله ):
لكل محدث محدث بالضرورة كما أنه لاكتابة بدون كاتب ولا صورة بدون مصور وهكذا فوجب أن يكون صور العالم وحركات الفلك متعلقة بصانع صنعها.
3)    ليس كمثله ضشيء:
و صانع المحدثات لا يكون شبيها بها لا في الجنس ولا في صورة, ويشير الباقلاني إلى أن صانع العالم واحد مستندا إلى دليل التمانع المستمد من قوله تعالى " لو كان فيها الهة إلا الله لفسدتا "
4)    صفات الذات والصفات الفعل:
الله علم قادر حي مريد سميع بصير متكلم, إذ لايصح أن يتصف الله بأضدادها, و هو لم يزل عالما قادرا حيا مريدا سميعا بصيرا متكلما هذا ما ذهب إليه الأشعري, ولكن الباقلاني يضيف إليها البقاء والوجه والعينين واليدين.
أما صفات الفعل فهي الدالة على أفعاله تعالى وهي الخلق والرزق والعدل والإحسان والتفضل والإنعام والثواب والعقاب والحشر والبشر وكل صقة كان سبحانه موجودا قبل فعله لها.  
5)    صلة الذات بالصفات
نقد الباقلاني رأي المعتزلة حين وحدوا بين الذات والصفات وجعلوا  الصفات عين الذات , إذ الذات موصوفة بصفات لازمة لها دوما ولكن ذلك لايعني أن يكون الذات هي هي الصفات أو أن يكون " العلم " أو "القدرة" أو الحياة هي هي الله.


6)    الله: في السماء
معلوم رأي مغتزلة أن الله فى كل مكان بمعنى أنه لا يحده مكان لا بمعنى وحدة الوجود، وادية أو روحية. و معلوم رأي المقاتلية و الحنابلة إن الله فى السماء إذ يستحيل أن الله فى أماكن من الأرض كأجساد البشر. ولا يفارق الباقلاني الحنابلة فى شئ بهذا الصدر، و يضيف إلى ذلك أنه لوكان فى كل مكان لوجب أن يزيد بزيادة الأماكن و ينقص بنقصانها. وأما قوله تعالى (وهو الذى فى السماء إله و فى الأرص إله)[1] إنما يدل على أنه إله معبود فى السماء و الأرض دون أن يعنى أنه موجود أو حال فى الأرض.
7)    جواز رؤية الله في الاخرة
عند الباقلاني كل موجود يصح أن يرى، لأن الشئ يرى لوجوده لا لكونه محدثا، ثم يذكر قوله تعالى (وحوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة)[2]
8)    نظرية الاحوال
أن الباقلانى صدد نظرية الأحوال قد عدل من موقفه إذ أثبت بعد أن أنكرها، ذلك أن نظرية الأحوال وأن تتعلق بذات الله وصفاته فإنها تتسق مع القول بشيئيه المعدوم أو بأحرى المعلوم.

ت‌.  الإنسان
1)    نظرية الكسب
ولم يسملم الباقلانى بالأحوال فحسب بل أنه أفاد منها لتطوير نظرية الكسب الأشعرية  بعد أن أخذ عليها تجاهل أبي الحسن لتأثير القدرة الإنسانية الحادثة، و إنه إذا لم يكن لهذه القدرة تأثيرا فى الإيجاد أو خلق الأفعال فإن لها تأثير فى وجود الفعل على هيئة مخصوصة أي فى صفات الحوادث و أحوالها.
ولكن هل المعاصي بقضاء الله و قدره؟ يوضح الباقلاني معانى القضاء على النحو الآتى:
أ‌)       القضاء يعنى الخلق
ب‌)  القضاء يعنى الإخبار و الإعلام
ت‌)  القضاء بمعنى الأمر
ث‌)  القضاء بمعنى الحكم و الإلزام 
و الله قد قضى المعاصي و قدرها على العباد على الوجهبن الأول والثانى دون الثالث و الرابع، إذ لم يأمر بها ولم يحتمها أو يحكم بها و إنما خلقها و أخبر عنها.
2)    جواز تكليف ما لايطاق
يجيز الباقلانى أن يؤلم الله التعالى الأطفال من غير غوض، و أن يأمر بذبح الحيوان و غير ذلك. و كل ذلك عدل منه و جائز فى حكمته، إذ الحسن ما حسنه الله و القبيح ما قبحه الله.
3)    الأرزاق-الأسعار-الاجال
أ‌)       الأرزق
ذهب المعتولة إلى أن الله يروق الحلال دون الحرم الذى يكتسبه العاصي بنفسه. و قد خالفها الأشاعرة، إذ ينفرد الله بتولى الأرزاق- حلالها و حرامها – فلو كان الله يرزق الحلال دون الحرام لكان من نشأ  و تربى فى حرام – كقاطع الطريق مثلا – كأن الله لم برزقه قط ولا يعنى أن الله يروق الحرام أنه يبيح ذلك و إنما يجعله غذاء للأبدان و قواما للأجسام.
ب‌)  الأسعار
أن الباقلانى قد أرجع الغلاء و الرخص إلى فعل الله الذي يخلق الرغبة لدي المشتري و يطبع الخلق على الاحتياج إلى تناول الأغذية تزيد قيمتها و يرتفع سعرها.
ت‌)  الآجال
هل يموت المقتول بأجله المقدر له أم بقتله قطع عليه أجله و أنقص منه؟ يؤكد الباقلانى أن المقتول  يموت بأجله المقدور، و أجل الموت هو الوقت الموت الذي يعلم الله  و قدر أنه يموت فيه لا محالته.
4)    الإيمان
يتبنى الباقلانى رأي المرجئة فى الإيمان أنه ما وقر فى القلب.



ث‌.  فى المسائل الطبيعية
1)    الجزء الذي لا يتجزأ
2)    العلية و إجراء العادة (نقض نظرية الطبائع)
ج‌.   نظرية الإمامة
الإمامة لدى الباقلانى كما هي لدى أهل السنة جميعا بالاختيار لا بالص. ويشترط فى الإمام أن يكون قريشا من الصميم و أن يكون عالما كعلم من يصلح للقضاء، و أن يكون ذا بصيرة بأمر الحروب  و تدبير الجيوس و سد السغور و حفظ الأمة و حماية الإسلام و الانتقام من الظالم و الأخذ للمظلوم، و أن لا تأخذه رقة أو هوادة فى إقامو الحدود.


[1] الزخرف: 84
[2] القيامة : 22-23

 
free counters

Blogger Community

Diberdayakan oleh Blogger.