Mempersembahkan Amalan Ibadah Harus yang Terbaik
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الجُمعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْن الجُمُعَةِ وَزِيادَةُ ثَلاثَةِ أيَّامٍ، وَمَنْ مَسَّ الحَصَا فَقَدْ لَغَا)). رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu katanya: "Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:
"Barang siapa yang berwudhu' lalu memperbaguskan wudhu'nya kemudian mendatangi shalat Jum'at, lalu mendengarkan khutbah serta berdiam diri, tidak bicara sedikit pun, maka diampunilah untuk antara Jum'at itu dengan Jum'at yang berikutnya dan ditambah pula dengan tiga hari lagi. Barangsiapa yang memegang mempermain batu kerikil di waktu ada khutbah maka ia telah berbuat kesalahan." (HR. Muslim)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1. Berwudhu merupakan syarat sahnya shalat maka hendaknya dilakukan dengan benar (syarat dan rukunnya), baik dan sempurna.
2. Makna ampunan baginya diantara dua Jumat dan ditambah tiga hari, yaitu : Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya sama dengan sepuluh atau semisalnya.
3. Hadits tersebut sebagai isyarat adanya anjuran untuk fokus yaitu: hati, fikiran dan seluruh anggota badan kepada khutbah, dan menjauhkan dari yang sia-sia.
Ayat Al-Quran yang berkaitan dg hadits diatas diantaranya adalah:
Allah Shubanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berkumpul (di masjid) guna mengerjakan ibadah kepada-Nya di hari Jumat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah. (QS. Al-Jumu'ah: 9).
Barakallahu lahum...!!!
Copas Grup WA
Home » Posts filed under Hadits
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 September 2018
Mempersembahkan Amalan Ibadah Harus yang Terbaik
Kesenangan Orang yang Mati Syahid
Kesenangan Orang yang Mati Syahidعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من نفس تموت لها عند الله خير يسرها أن ترجع إلى الدنيا إلا الشهيد فإنه يسره أن يرجع إلى الدنيا فيقتل مرة أخرى مما يرى من فضل الشهادة
Dari Anas bin Malik rodhiAllahu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
Tidak ada seorang yang telah mati dan memperoleh kemenangan di sisi Tuhan, kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia, kemudian mati syahid lagi. Hal itu disebabkan karena besarnya karunia yang diterimanya".
(HR Muslim)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1- Para syuhada' itu menikmati pemberian-pemberian Tuhan, mereka ingin mati syahid berulang kali.
2- Besarnya karunia Allah Subhana wa Ta'ala, orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagai anggapan orang-orang munafik, akan tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah-limpah.
الشهداء على بارق نهر بباب الجنة فى قبة خضراء يخرج إليهم رزقهم من الجنة بكرة وعشيا
Para syuhada berada pada tepi sungai dekat pintu surga, mereka berada dalam sebuah kubah yang hijau. Hidangan mereka dikeluarkan dari surga itu setiap pagi dan sore.
(HR Hakim, Ahmad dan Tabrani dari Ibnu 'Abbas)
Bagaimana keadaan hidup mereka seterusnya, hanyalah Allah yang mengetahui.
3- Orang yang mati syahid di jalan Allah puncak dari segala amal kebaikan dan Keutamaannya.
4- Disyaratkan untuk mendapatkan syahid sehingga menerima begitu besar pahala,
- Niat ikhlas berperang dijalan Allah.
- Adanya kemaun kuat untuk meninggalkan dunia dan semua kelezatannya semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah Subhana wa Ta'ala.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:
- Orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagai anggapan orang-orang munafik, akan tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah-limpah.
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki,(QS. 3:169)
Barakallahu lahum...!!!
Copas Grup WA
Tidak ada seorang yang telah mati dan memperoleh kemenangan di sisi Tuhan, kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia, kemudian mati syahid lagi. Hal itu disebabkan karena besarnya karunia yang diterimanya".
(HR Muslim)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1- Para syuhada' itu menikmati pemberian-pemberian Tuhan, mereka ingin mati syahid berulang kali.
2- Besarnya karunia Allah Subhana wa Ta'ala, orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagai anggapan orang-orang munafik, akan tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah-limpah.
الشهداء على بارق نهر بباب الجنة فى قبة خضراء يخرج إليهم رزقهم من الجنة بكرة وعشيا
Para syuhada berada pada tepi sungai dekat pintu surga, mereka berada dalam sebuah kubah yang hijau. Hidangan mereka dikeluarkan dari surga itu setiap pagi dan sore.
(HR Hakim, Ahmad dan Tabrani dari Ibnu 'Abbas)
Bagaimana keadaan hidup mereka seterusnya, hanyalah Allah yang mengetahui.
3- Orang yang mati syahid di jalan Allah puncak dari segala amal kebaikan dan Keutamaannya.
4- Disyaratkan untuk mendapatkan syahid sehingga menerima begitu besar pahala,
- Niat ikhlas berperang dijalan Allah.
- Adanya kemaun kuat untuk meninggalkan dunia dan semua kelezatannya semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah Subhana wa Ta'ala.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:
- Orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagai anggapan orang-orang munafik, akan tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah-limpah.
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki,(QS. 3:169)
Barakallahu lahum...!!!
Copas Grup WA
Minggu, 19 Juni 2011
Metode Penyelesaian Hadis- Hadis Mukhtalif
Sebelum kita bahas satu persatu cara persatu metode penyelesaian hadis- hadis mukhtalif, alangkah lebih baiknya kita jelaskan trelebih dahulu apa itu hadis mukhtalif?apa itu ilmu muktalih al- hadis?
Hadis mukhtalif adalalah dua hadis maqbul (diterima) yang saling bertentangan pada makna zhahirnya (namun makna- makna sebenarnya tidaklah bertentangan, untuk mengetahui maknanya tersebut) maka keduanya di kompromikan atau di tarjih.
Ilmu muktalif al- hadis adalah ilmu yang mempelajari atau membahas tentang hadis- hadis yang lahiriyahnya saling bertentangan, untuk kemudian dapat dapat menghilangkan dapat menghilangkan pertentangan tersebut atau dapat pula menumukan pengompromianya.
Baiklah dalam Metode Penyelesaian Hadis- Hadis Mukhtalif ini kita akan memakai metode imam as- syafi’i, mengapa kita memakai motode imam syafe’i? Karena metode penyelesaian hadis- hadis mukhtalif yang di perkenalkan dan diwariskan oleh as- syafe’i sebenarnya telah menjadi rujukan utama dikalangan ulama hadis yang datang kemudian, oleh karena itu bagi siapa yang ingin mendalami ilmu mukhtalafi al- hadis, maka kita tidak akan terlepas dari motodenya imam as- syafe’i.
Cara yang ditempuh Imam as- Syafe’i dalam menyelesaikan hadis- hadis mukhtalif
Prinsip yang ditekankan oleh imam as- syafe’i dalam menghadapi dan menyelesaikan hadis- hadis mukhtalif: Jagan sekali- kali mempertentangkan hadis- hadis Rasulullah satu dengan yang lainnya selama mungkin ditemukan jalan untuk mengompromikannya agar hadis- hadis tersebut dapat sama- sama diamalkan. Jagan telantarkan yang satu lantaran yang lainnya karena kita punya kewajiban yang sama untuk mengamalkan masing- masingnya. Oleh karena itu, jangan jadikan hadis- hadis tersebut bertentangan kecuali tidak dapat di amalkan selain harus meninggalkan salah satunya.
1. Penyelesaian dalam Bentuk Kompromi (al- jam’u)
Mencari pemahaman yang tepat terhadap hadis- hadis yang tampak saling bertentangan tersebut, yang menunjukkan kesejalanan atau saling keterkaitan makna yang dikandungnya sehingga masing- masing dapat diamalkan sesuai dengan tuntutannya.[1]
Dari contoh yang dikemukakan Imam as- syafe’i dapat ditarik beberapa cara penyelesaian dalam bentuk kompromi ini sebagai berikut:
· Berdasarkan Pemahaman dengan pendekatan kaidah ushul
Yang dimaksud dengan kaidah ushul adalah kita harus memperhatikan kaidah- kaidah yang telah dirumuskan ulama yang mana hadis- hadis tersebut disampaikan dalam bahasa arab, diantaranya ada yang diungkapkan dengan menggunakan redaksi (kata- kata) yang bersifat umum (al- ‘am) yang memang ditujukan untuk umum (al- ‘am yurad bil al- ‘am). Adapula yang diungkapkan dengan redaksi umum namun dimaksudkan untuk diberlakukan secara khusus (al- ‘am yurad bil al- khash) adapula berlaku pada makna khusus (al- ‘am al- makhshush).
· Berdasarkan pemahaman kontekstual
Pemahaman kontekstual adalah memahami hadis- hadis Rasulullah dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi munculnya hadis- hadis tersebut, yang lazimnya disebut sabab wurud al- hadits.
· Berdasarkan Pemahaman Korelatif
Pemahaman Korelatif adalah hadis- hadis mukhtalif yang nampak saling bertentangan menyangkut satu masalah, dikaji bersama dengan hadis lain yang terkait, dengan memperhatikan keterkaitan makna satu dengan yang lainnya.
· Penyelesaian dengan cara takwil
Mentakwilkan dari makna lahiriyah yang tampak bertentangan kepada makna lain sehingga pertentangan yang tampak dapat ditemukan titik temu atau pengompromiannya.
2. Penyelesaian dalam Bentuk Naskh
Beberapa ketentuan Naskh:
Hukum yang di- naskh berkaitan dengan hukum sya’i, Hukum yang di- naskh haruslah berlaku tanpa batas waktu, Hukum yang di- naskh bukan hukum yang diyakini tidak akan berubah sepanjang zaman, Nasikh memiliki kekuatan yang sama dengan mansukh, nasikh dan mansukh mengandung tuntutan hukum yang berbeda, nasikh harus dengan nash yang datang kemudian.[2]
3. Penyelesaian dalam Bentuk Tarjih
Membandingkan dalil- dalil yang tampak bertentangan untuk dapat mengetahui manakah di antaranya yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya, aspek- aspek tarjih adalah ditinjau dari segi sanad dan matan-nya.
4. Penyelesaian dalam Masalah Tanawwu’ al- ibadah
Tanawwu’ al- ibadah adalah hadis- hadis yang menerangkan praktik ibadah tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah, akan tetapi antara satu dan lainnya terdapat perbedaan, perbedaan ini adakalanya dalam bentuk ucapan dan adakalanya dalam bentuk cara pelaksanaan.[3]
Sumber dari buku: Prof. Edi Safri (Al- Imam Al- Syafi’i: Metode Penyelesaian Hadis- Hadis Mukhtalif) dan Maizuddin, M. Ag (Metodologi Pemahaman Hadis)
Selasa, 14 Juni 2011
تخريج الحديث عن افشوا السلام بينكم
علمنا أن الأحاديث النبوية وحي مروي و مصدر للشريعة بعد القرآن و منزلتها مؤكدة مبينة و مفسرة للقرآن يعظمها و يلزمنا بحفظها من كل المحرفين الجاهلين الضالين الذين لا يأكلون في بطونهم إلا النار. فقام العلماء بحفظها بطريقة الرواية و التبين لكل الراوي معتمدا على قول عز من قائل: (إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا) و خشيتا من قول الرسول: (من كذب علي متعمدا فليتبوء مقعده من النار). فلذا يكون العلماء ورثة الأنبياء.
تكليفا بمادة تخريج الحديث فأقوم بتخريج الحديث " افشوا السلام بينكم"
كامل الحديث ((لا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِن فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ.))
فبدأت ببحث :
<. من كلمة "تحابوا" و وجدت في كتاب المعجم المفهرس مجلد الاول, في صفحة 408 . هو:م إيمان 93د ادب 131ت صفة القيامة 54, استئذان 1جه مقدمة 9 , ادب 11حم 1 167 2 ,442
<. من كلمة "افشوا" فاوجدت في كتاب المعجم المفهرس مجلد 5، في صفحة 148.
م ايمان 93، ت أطعمة 45، قيامة 4، 56، استئذان 1، جه مقدمة 9، أدب 11، حم 1، 165،167، 2، 442، 447
<. من كلمة "السلام" فاوجدت في كتاب المعجم المفهرس مجلد 2، في صفحة 532.
م ايمان 93، ت أطعمة 45، قيامة 4، 56، استئذان 1، جه مقدمة 9، إقامة 174 ، أدب 11، دى صلاة 156، استئذان 26، حم 1، 165،167، 2، 442، 447
1. صحيح مسلم
· حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ.( م إيمان 93 ص 80 باب 22)
2. سنن أبي داود
· حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِى شُعَيْبٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».( د ادب, 131, ص: 2207 , رقم:5193 , جزء 4)بل وجدت في ادب 142
3. سنن الترمذى
· حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا أَنْتُمْ فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».( ت استئذان 1 ص:476 رقم:2677 جزء 4)
· حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ عَنْ حَرْبِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِى كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ أَنَّ مَوْلَى الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِىَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».( ت صفة القيامة 54 ص:379 رقم:2510 جزء 4)بل وجدت في صفة القيامة 56
4. سنن ابن ماجه
· حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».( جه مقدمة 9 ص:61 رقم:68 جزء 1)
· حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهُ صلى الله عليه وسلم« وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».(جه ادب11ص:304 رقم: 3692 جزء3)
5. مسند أحمد بن حنبل
· حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى َثَنَا وَكِيعٌ قال َثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا ثم قال هل أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».(حم 2 ,442)
· حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ ثَنَا حَرْبُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِى كَثِيرٍ أَنَّ يَعِيشَ بْنَ الْوَلِيدِ حَدَّثَهُ أَنَّ مَوْلًى لآلِ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ وَالْبَغْضَاءُ هِىَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ أَوْ وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوان الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوان حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَلِكَ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».( حم 1 , 167)
ترجمة الرجال
ترجمة الرجال فى الحديث ما رواه الترمذى:
الترمذى
محمد بن عيسى بن سورة بن موسى بن الضحاك السلمى ، أبو عيسى الترمذى الضرير الحافظ ( صاحب " الجامع " و غيره من المصنفات )، الطبقة : 12 : صغارالآخذين عن تبع الأتباع. الوفاة : 279 هـ بـ ترمذ، رتبته عند ابن حجر : أحد الأئمة، رتبته عند الذهبي : الحافظ
سفيان بن وكيع
اسمه: سفيان بن وكيع بن الجراح الرؤاسى ، أبو محمد الكوفى ( أخو مليح بن وكيع ، و عبيد بن وكيع ). روى عن : عبد الرحمن بن مهدى و روى عنه : الإمام الترمذى. رتبته: قال البخارى : يتكلمون فيه لأشياء لقنوه . و قال عبد الرحمن بن أبى حاتم : سألت أبا زرعة عنه فقال : لا يشتغل به . قيل له : كان يكذب ؟ قال : كان أبوه رجلا صالحا . قيل له : كان يتهم بالكذب ؟ قال : نعم. قال : لين. (تهذيب الكمال, ص:279 رقم:2418 جزء 4)و(تهذيب تهذيب, ص:408 رقم:2530 جزء 3)
عبد الرحمن بن مهدى
اسمه: عبد الرحمن بن مهدى بن حسان بن عبد الرحمن العنبرى و قيل الأزدى مولاهم ، أبو سعيد البصرى اللؤلؤى، المولد : 135 هـ تقريبا. الوفاة : 198 هـ بـ البصرة. روى عن : حرب بن شداد و روى عنه : سفيان بن وكيع بن الجراح. رتبته: قال:هو الحافظ. قال:ابن سعد:كان ثقة, كثر الحديث. (تهذيب الكمال, ص:280 رقم:3996 جزء 6)و(تهذيب تهذيب, ص:182 رقم:4133 جزء 5)
حرب بن شداد
اسمه: حرب بن شداد اليشكرى ، أبو الخطاب البصرى العطار ، و يقال القطان ، و يقال القصاب، الوفاة : 161 هـ. روى عن : يحي بن أبي كثير و روى عنه : عبد الرحمن المهدى. رتبته: قال :كان ثقة، قال عبد الصمد: ثقة (تهذيب الكمال, ص:465 رقم:1156 جزء 2)و(تهذيب تهذيب, ص:203 رقم:1219 جزء 2)
يحيى بن أبى كثير
اسمه: يحيى بن أبى كثير الطائى مولاهم ، أبو نصر اليمامى ( اسم أبى كثير صالح بن المتوكل ، و قيل يسار ، و قيل غير ذلك )الوفاة : 132 هـ. روى عن : غيرهم و روى عنه : حرب بن شداد اليشكرى. رتبته: قال العجلى : ثقة. قال ابو حاتم: يحي إمام لايحدث إلا عن ثقة. (تهذيب تهذيب, ص:285 رقم:7911 جزء 9)
يعيش بن الوليد
اسمه: يعيش بن الوليد بن هشام بن معاوية بن عقبة بن أبى معيط بن أبى عمرو بن أمية القرشى الأموى المعيطى الدمشقى ( نزيل قرقيسياء ). روى عن : مولى الزبير (أبو حاكم) و روى عنه : يحي لن أبي كسير. رتبته: قال العجلى والنسائ : ثقة. وذكره ابن حبان ف (الثقات) (تهذيب تهذيب, ص:425 رقم:8131 جزء 9)
مولى الزبير
اسمه: أبو حكيم والد إسماعيل و إسحاق مولى عثمان وقيل مولى الزبير. روى عن : الزبير بن العوام و روى عنه : عنه. رتبته: عند ابن حجر: مجهول. قال الذهبي فى ميزان الاعتدال(ص:517 جزء4 ):لم يعرف أو لم يذكرها. (تهذيب تهذيب, ص:85 رقم:8245 جزء 10)
الزبير بن العوام
اسمه: الزبير بن العوام بن خويلد بن أسد بن عبد العزى بن قصى بن كلاب بن مرة بن كعب القرشى الأسدى ، أبو عبد الله المدنى, الوفاة : 36 هـ . روى عن : رسول الله و روى عنه: مولى الزبير (أبو حكيم). رتبته: عند ابن حجر : صحابى ( قال : أحد العشرة المشهود لهم بالجنة ), شهد بدرا,المشاهد كلها مع رسول الله (تهذيب الكمال, ص:565 رقم:1971 جزء 3)و(تهذيب تهذيب, ص:143 رقم:2067 جزء 3)
البحث عن السند
§ من ناحية اتصال السند.
السند الذي خرجه الترمذى أنه متصل الا أن يحي بن أبى كثير لم يذكر ان يعيش بن الوليد شيوخه ولكن يذكر الأسماء مشايخه المشهورين فحسب, ويختم بكلمة غيرهم. من مجمل الكلمة غيرهم قد يكون يحي بن الوليد شيخ ليحي بن أبى كثير. لأن لما بحثنا عن أسماء طلاب يعيش بن أبى الوليد وجدنا فيهم يحي بن أبى كثير. فالهذا يكون السند متصل. كذلك بين مولى الزبير و يعيش بن الوليد.
§ من ناحية ثقة الراوي. ( يستعمل طريقة الأولى يعني تقدم الجرح على التعديل)
رواته كلهم ثقة الا سفيان بن وكيع هو لين ومولى الزبير هو مجهول او لايعرف.
خلاصة
وأن السند الذى خرج الترمذى هو السند ضعيف واما ما خرج الأخر هناك الضعيف و الصحيح.مثل السند الصحيح مارواه مسلم.
والله أعلم
Rabu, 01 Juni 2011
Membayar Hak(أداء الحقوق)
Hadis diriwayat dari abi hurairah bahwasanya rasul SAW bersabda: Bagi siapa yang meminjam harta manusia lalu ingin melunaskan (hutang)nya maka allah akan melunaskaan hutangnya darinya, dan bagi siapa yang ingin meminjamnya karena ingin menghancurkannya maka Allah akan menghancurkannya. (HA, Bukhari, ibnu majah, ahmad bin hambal, baihaqi.)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : قَالَ مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّاهَا اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهَا اللَّهُ . (رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ) البخارى زكاة 18, استقراض 2, ابن ماجة صدقات, احمد بن حمبل جزء 2 رقم:361, 418.ترجمةالي لغة الإندنسية
Hadis diriwayat dari abi hurairah bahwasanya rasul SAW bersabda: Bagi siapa yang meminjam harta manusia lalu ingin melunaskan (hutang)nya maka allah akan melunaskaan hutangnya darinya, dan bagi siapa yang ingin meminjamnya karena ingin menghancurkannya maka Allah akan menghancurkannya. (HA, Bukhari, ibnu majah, ahmad bin hambal, baihaqi.)
الحديث في رواية الاخرى
ü عن أَبى هريرة أن النبى صلى الله عليه وسلم قال من أخذ أَموال الناس يريد إتلافها أتلفه الله
(رواه ابن ماجة)
ü عن أبى هريرة أن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قال من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدّى اللَّه عنه ومن أخذها يريد - يَعْنِى - تلفها أتلفه اللَّه عز وجل (رواه احمد بن حنبل)
ü عن أبي هريرة ، أن رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم ، قال : من أخذ أموال الناس يريد أداءها ، أدّاها اللَّه عنه ، ومن أخذها يريد إتلافها ، أتلفه اللَّه عز وجل (رواه احمد بن حنبل)
ü عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من أخذ أموال الناس يريد أداءها أداها الله عنه ومن أخذها يريد اتلافها أتلفها الله (رواه البيهقى)
ترجة قصيرة ابو هريرة
قال المزي في تهذيب الكمال :
( خ م د ت س ق ) : أبو هريرة الدوسى اليمانى ، صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، و حافظ الصحابة .
اختلف فى اسمه و اسم أبيه اختلافا كثيرا ، فقيل : اسمه عبد الرحمن بن صخر ، و قيل:عبد الرحمن بن غنم ، و قيل : عبد الله بن عائذ ، و قيل : عبد الله بن عامر ، و قيل : عبد الله بن عمرو ، و قيل : سكين بن وذمة ، و قيل : سكين بن هانىء ، و قيل : سكين بن مل ، و قيل : سكين بن صخر ، و قيل : عامر بن عبد شمس ، و قيل : عامر بن عمير ، و قيل : برير بن عشرقة ، و قيل : عبد نهم ، و قيل : عبد شمس ، و قيل : غنم ، و قيل : عُبيد بن غنم ، و قيل : عمرو بن غنم ، و قيل : عمرو بن عامر ، و قيل : سعيد بن الحارث ، و قيل : غير ذلك . و قال هشام بن محمد الكلبى : اسمه عمير بن عامر بن ذى الشرى بن طريف بن عيان بن أبى صعب بن هنية بن سعد بن ثعلبة بن سليم بن فهم بن غنم بن دوس بن عدثان بن عبد الله بن زهران بن كعب بن الحارث بن كعب بن عبد الله بن مالك بن نصر بن الأزد .
و هكذا قال خليفة بن خياط فى نسبه إلا أنه قال : عتاب بدل عيان ، و قال منبه هنية . و يقال : كان اسمه فى الجاهلية عبد شمس و كنيته أبو الأسود فسماه رسول الله صلى الله عليه وسلم عبد الله و كناه أبا هريرة .
و روى ، عنه أنه قال ; إنما كنيت بأبى هريرة أنى وجدت أولاد هرة وحشية فحملتها فى كمى ، فقيل : ما هذه ؟ فقلت : هرة ، قيل فأنت أبو هريرة .
و ذكر أبو القاسم الطبرانى أن اسم أمه ميمونة بنت صبيح .
و قال المزى :
قال البخارى : روى عنه نحو من ثمان مئة رجل أو أكثر من أهل العلم من أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم و التابعين و غيرهم .
و قال عمرو بن على : نزل المدينة ، و كان مقدمه و إسلامه عام خيبر ، و كانت خيبر فى المحرم سنة سبع .
و قال الواقدى : كان ينزل ذا الحليفة ، و له بها دار تصدق بها على مواليه فباعوها من عمرو بن بزيع .
و قال داود بن عبد الرحمن العطار عن عبد الله بن عثمان بن خثيم ، عن عبد الرحمن بن لبيبة الطائفى : أتيت أبا هريرة و هو فى المسجد ، فقال ابن خثيم لعبد الرحمن : صفه لى ، فقال : رجل آدم بعيد ما بين المنكبين ذو ظفيرتين أفرق التنيتين .
و قال الزهرى عن عبد الرحمن الأعرج : سمعت أبا هريرة يقول : إنكم تزعمون أن أبا هريرة يكثر الحديث على رسول الله صلى الله عليه وسلم والله الموعد إنى كنت امرءا مسكينا أصحب رسول الله صلى الله عليه وسلم على ملء بطنى ، و كان المهاجرون يشغلهم الصفق بالأسواق و كانت الأنصار يشغلهم القيام على أموالهم ، فحضرت من النبى صلى الله عليه وسلم مجلسا ، فقال من يبسط رداءه حتى أقضى مقالتى ثم يقبضه إليه فلن ينسى شيئا سمعه منى . فبسطت بردة على حتى قضى حديثه ، ثم قبضها إلى ، فوالذى نفسى بيده ما نسيت شيئا بعد سمعته منه .
أخبرنا بذلك أبو الفرج بن قدامة ، و أبو الغنائم بن علان ، و أحمد بن شيبان ، قالوا : أخبرنا حنبل ، قال : أخبرنا ابن الحصين ، قال : أخبرنا ابن المذهب ، قال : أخبرنا القطيعى ، قال : حدثنا عبد الله بن أحمد ، قال : حدثنى أبى ، قال : حدثنا سفيان ، عن الزهرى ، فذكره .
قال سفيان بن عيينة ، عن هشام بن عروة : مات أبو هريرة ، و عائشة سنة سبع و خمسين .
و قال أبو الحسن المدائنى ، و على ابن المدينى ، و يحيى بن بكير ، و خليفة بن خياط ، و عمرو بن على : مات أبو هريرة سنة سبع و خمسين .
و قال ضمرة بن ربيعة ، و الهيثم بن عدى ، و أبو معشر المدنى ، و عبد الرحمن بن مغراء ، و غيرهم : مات سنة ثمان و خمسين .
و قال الواقدى ، و أبو عبيد ، و أبو عمر الضرير ، و ابن نمير : مات سنة تسع و خمسين .
قال الواقدى : و هو ابن ثمان و سبعين سنة ، و هو صلى على عائشة فى رمضان سنة ثمان و خمسين ، و على أم سلمة فى شوال سنة تسع و خمسين ، و كان الوالى الوليد ابن عتبة بن أبى سفيان فركب إلى الغابة و أمر أبا هريرة يصلى بالناس فصلى على أم سلمة فى شوال ، ثم توفى بعد ذلك فى هذه السنة .
روى له الجماعة .
قال الحافظ في تهذيب التهذيب 12 / 266
( عقب قول الواقدى : و هو صلى على عائشة فى رمضان سنة ثمان و خمسين ، و على أم سلمة فى شوال سنة تسع و خمسين ، ثم توفى بعد ذلك فيها ) : هذا من أغلاط الواقدى الصريحة ، فإن أم سلمة بقيت إلى سنة إحدى و ستين ، ثبت فى صحيح مسلم ما يدل على ذلك كما سيأتى فى ترجمتها ، و الظاهر أن التى صلى عليها ثم مات معها فى السنة هى عائشة ، كما قال هشام بن عروة : إنهما ماتا فى سنة واحدة .
و من فضائله ما رواه النسائى فى العلم من " السنن " أن رجلا جاء إلى زيد بن ثابت فسأله عن شىء ، فقال له زيد : عليك أبا هريرة ، فإنى بينما أنا و أبو هريرة و فلان فى المسجد ذات يوم ندعو الله تعالى و نذكره ، إذ خرج علينا النبى صلى الله عليه و آله وسلم حتى جلس إلينا فسكتنا ، فقال : عودوا للذى كنتم فيه ، قال زيد : فدعوت أنا و صاحبى قبل أبى هريرة ، و جعل رسول الله صلى الله عليه و آله وسلم يؤمن على دعائنا ، ثم دعا أبو هريرة ، فقال : اللهم إنى أسالك ما سألاك صاحبى ، و أسألك علما لا ينسى ، فقال رسول الله صلى الله عليه و آله وسلم : آمين ، فقلنا : يا رسول الله و نحن نسأل الله تعالى علما لا ينسى ، فقال : سبقكم بها الغلام الدوسى .
و قال طلحة بن عبيد الله أحد العشر : و لا شك أنه سمع من رسول الله صلى الله عليه و آله وسلم ما لم نسمع .
و قال ابن عمر : أبو هريرة خير منى و أعلم .
و قال ابن خزيمة : قال سفيان بن حسين عن الزهرى عن المحرر بن أبى هريرة : اسم أبى عبد عمرو .
و قال محمد بن عمرو عن أبى سلمة عن أبى هريرة : كان اسمى عبد شمس .
قال ابن خزيمة : و محمد بن عمرو عن أبى سلمة أحسن إسنادا من سفيان بن حسين عن الزهرى ، اللهم إلا أن يكون له اسمان قبل إسلامه ، فأما بعد إسلامه فلا أنكر أن يكون النبى صلى الله عليه و آله وسلم غير اسمه ، فسماه عبد الله كما ذكره أبو عبيد انتهى .
و فى مغازى ابن إسحاق : حدثنى بعض أصحاب أبى هريرة قال : كان اسمى فى الجاهلية عبد شمس بن صخر ، فسميت فى الإسلام عبد الرحمن ، رواه الحاكم فى " المستدرك " . و روى ابن السكن من طريق إسماعيل المؤدب عن الأعمش عن أبى صالح عن أبى هريرة ،
و اسمه عبد الرحمن بن صخر . . . فذكر حديثا ، قال ابن السكن : لم أجده مسمى إلا فى هذه الرواية .
و روى الدولابى فى تاريخه بإسناد له عن الزهرى : أن النبى صلى الله عليه و آله وسلم سماه عبد الله ، و استعمله عمر على البحرين ثم عزله ، ثم أراده على العمل فأبى ، و تأمر على المدينة غير مرة فى أيام معاوية.
و قال ابن عبد البر : و لكثرة الاضطراب فى اسمه و اسم أبيه لم يصح عندى فى اسمه شىء يعتمد عليه .
قلت : الرواية التى ساقها ابن خزيمة أصح ما ورد فى ذلك ، و لاينبغى أن يعدل عنها ، لأنه روى ذلك عن الفضل بن موسى السينانى عن محمد بن عمرو ، و هذا إسناد صحيح متصل ، و بقية الأقوال إما ضعيفة السند أو منقطعة .
الأبحاث العربية
من اخذ أموال الناس : أي بطريق القرض أو بوجه من المعاملات حال كونه يريد أداءها أو اتلافها يعني قصد مجرد الاخذ ولا ينظر الى الأداء
أداها اللَّه عنه : ما من مسلم يدان دينا يعلم اللَّه أنه يريد أداءه إلا أداه اللَّه عنه في الدنيا
اتلفها الله : يذهبه من يده فلا ينتفع به لسوء نيته ويبقى عليه الدين ويعاقب به يوم القيامة
الأبحاث النحوية
(مَنْ) حرف إستفهام مبنى على السكون (أَخَذَ) فعل ماض وفاعله ضمير مستتير يعني هو (أَمْوَالَ) مفعول به منصوب وعلامة نصبه بالفتحة الظاهرة في اخره (النَّاسِ) مضاف اليه مجرور و علامة جره بالكسرة الظلهرة في اخره (يُرِيدُ) فعل مضارع معلوم وفاعله ضمير مستتير يعنى هو (أَدَاءَهَا) مفعول به منصوب وعلامة نصبه بالفتحة الظاهرة في اخره والهاء: اسم ضمير في محل مضاف اليه (أَدَّاهَا) فعل ماض و الهاء: مغعول به مقدم (اللَّهُ) فاعل مأخر مرفوع وعلامة رفعه بالضمة الظاهرة في اخره (عَنْهُ) جر و مجرور (و) عطف (مَنْ) حرف إستفهام مبنى على السكون (أَخَذَهَا) فعل ماض وفاعله ضمير مستتير يعني هو والهاء: مفعول به (يُرِيدُ) فعل مضارع معلوم وفاعله ضمير مستتير يعنى هو (إِتْلاَفَهَا) مفعول به منصوب وعلامة نصبه بالفتحة الظاهرة في اخره والهاء: اسم ضمير في محل مضاف اليه (أَتْلَفَهَا) فعل ماض و الهاء: مغعول به مقدم (اللَّهُ) فاعل مأخر مرفوع وعلامة رفعه بالضمة الظاهرة في اخره.
الأبحاث البلاغية
ü " مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّاهَا اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهَا اللَّهُ " جملة خبرية مع كونها إنشائية.
ü قوله: (مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّاهَا اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهَا اللَّه ) بين لفظ ( أَدَاءَهَا و إِتْلاَفَهَا ) طباق. وأما طباق هو أن يجمع بين لفطين متقابلين في المعنى.
الشرح الأدبي
و في شرح ابن باطل : هذا الحديث شريف ومعناه: الحض على ترك استئكال أموال الناس والتنزه عنها، وحسن التأدية إليهم عند المداينة، وقد حرم الله فى كتابه أكل أموال الناس بالباطل، وخطب النبى عليه السلام بذلك فى حجة الوداع، فقال: « إن دماءكم وأموالكم عليكم حرام » يعنى: من بعضكم على بعض، وفى حديث أبى هريرة أن الثواب قد يكون من جنس الحسنة، وأن العقوبة قد تكون من جنس الذنوب، لأنه جعل مكان أداء الإنسان أداء الله عنه، ومكان إتلافه إتلاف الله له.
الأيات المتعلقة بالحديث
ü وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الابْصَارُ (إبراهيم: 42)
ü فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (النمل 52)
ü إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْل ( النساء 58)
ü وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا )الطلاق 2 (
ü وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا )الطلاق 4 (
Langganan:
Postingan (Atom)









